Owl City - The Bird and The Worm (Fanmade)
anggirosyada
Selasa, 24 September 2013
Minggu, 22 September 2013
AUTUMN ..
musim gugur ..
aku sendiri tak paham arti dari komposisi penyusun kata-kata itu
gugur, mungkin kah rasa sakit yang akhirnya menghilang ?
atau kah bisa mungkin kebahagiaan yang perlahan memudar ?
yang nyata pasti kedua hal itu menjadi material penyusun 30 hari musim ini
ku nikmati kebahagiaan hidupku dengan bertambahnya umurku menuju kedewasaan
genap 16 tahun di musim ini membuatku mengajukan banyak permohonan
karena aku tak ingin merasakan pedihnya menyesal disela-sela sisa waktuku
banyak kejutan yang mengagetkan membuatku tak henti tersenyum lebar
sebagai tanda terima kasihku pada semua, yang tak cukup terbilang
namun perlahan senyum itu mengaku, membeku
hingga bibir ini mengatup, menutup barisan gigi yang rapi
ku dapati kenyataan yang merupakan jawaban Tuhan
terlalu sakit bagiku, hingga menangis pun aku tak mampu kala itu
menyadari apa yang kumohonkan "berikan yang terbaik"
seolah tak dapat ku terima dengan dada yang lapang
manusia terkutuk, mungkin bisa jadi begitu diriku kala sakit itu
membuang pemberiaan apa yang telah ku minta sebenarnya
aku begitu karena memang jawaban Tuhan tak sesuai kehendakku
meski dari dulu aku tau, Tuhan tak kan setuju dengan hubungan yang ku minta itu
renunganku mulai membantu, perlahan menyadar kan ku dari belenggu cinta itu
aku merasa lebih baik saat ini, lebih bisa menerima jawaban yang Ia beri
dan syukur tak henti selalu meluap dihatiku, dan berbuih dimulutku
maka itu aku ragu, akan makna dari musim gugur itu
karena aku sempat merasakan gugurnya pedihku,
juga gugurnya tawaku ..
aku sendiri tak paham arti dari komposisi penyusun kata-kata itu
gugur, mungkin kah rasa sakit yang akhirnya menghilang ?
atau kah bisa mungkin kebahagiaan yang perlahan memudar ?
yang nyata pasti kedua hal itu menjadi material penyusun 30 hari musim ini
ku nikmati kebahagiaan hidupku dengan bertambahnya umurku menuju kedewasaan
genap 16 tahun di musim ini membuatku mengajukan banyak permohonan
karena aku tak ingin merasakan pedihnya menyesal disela-sela sisa waktuku
banyak kejutan yang mengagetkan membuatku tak henti tersenyum lebar
sebagai tanda terima kasihku pada semua, yang tak cukup terbilang
namun perlahan senyum itu mengaku, membeku
hingga bibir ini mengatup, menutup barisan gigi yang rapi
ku dapati kenyataan yang merupakan jawaban Tuhan
terlalu sakit bagiku, hingga menangis pun aku tak mampu kala itu
menyadari apa yang kumohonkan "berikan yang terbaik"
seolah tak dapat ku terima dengan dada yang lapang
manusia terkutuk, mungkin bisa jadi begitu diriku kala sakit itu
membuang pemberiaan apa yang telah ku minta sebenarnya
aku begitu karena memang jawaban Tuhan tak sesuai kehendakku
meski dari dulu aku tau, Tuhan tak kan setuju dengan hubungan yang ku minta itu
renunganku mulai membantu, perlahan menyadar kan ku dari belenggu cinta itu
aku merasa lebih baik saat ini, lebih bisa menerima jawaban yang Ia beri
dan syukur tak henti selalu meluap dihatiku, dan berbuih dimulutku
maka itu aku ragu, akan makna dari musim gugur itu
karena aku sempat merasakan gugurnya pedihku,
juga gugurnya tawaku ..
Selasa, 10 September 2013
Senin, 09 September 2013
Mawar Untuk Ibu
Seorang pria berhenti ditoko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang tinggal 250 KM darinya. Begitu keluar dari mobilmya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya mengapa gadis kecil itu menangis dan gadis kecil itu menjawab,Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tetapi saya hanya mempunyai uang lima ratus rupiah, sedangkan harga mawar itu seribu rupiah.
Pria itu tersenyum dan berkata, Ayo ikut aku, aku akan membelikan bunga yang kau mau. Kemudian, ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan kepada ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri utuk mengantarkan gadis itu pulang kerumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, Ya, tentu saja. Maukah Anda mengantar saya ketempat ibuku?
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri utuk mengantarkan gadis itu pulang kerumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, Ya, tentu saja. Maukah Anda mengantar saya ketempat ibuku?
Kemudian mereka berdua menuju tempat yang ditunjuk gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Setibanya disana gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah. Melihat itu, hati pria itu menjadi terenyuh dan teringat akan sesuatu. Bergegas ia kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan kirimanya. Ia mengambil karangan bunga yang telah dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 KM menuju kerumah ibunya.
Pertunjukkan Akhir
Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya.
Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya. Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. Uang yang diterimanya semakin besar. Suatu hari, permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Semua penonton tidak putus-putusnya bertepuk tangan menyambut setiap pertunjukkan. Akhirnya, tibalah acara yang mendebarkan, yaitu permainan ular. Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya. Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada tubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu ia lalu memerintahkan agar ular itu melepaskan lilitannya, tetapi ia tidak taat. Sebaliknya ia semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus itu, dan akhirnya ia terkulai mati.
Renungan : “Kadang-kadang dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar dapat melepaskan diri lagi daripadanya.”
Cara Alam Menghibur Kita
Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar hari. Sebalkah anda?
Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda?
Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda?
Mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?
Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita sendiri, dan bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, meski secara kecut, tak apalah
Langganan:
Komentar (Atom)






