“Lingkungan alam, adalah istilah tempat yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan.”, itulah salah satu definisi dari seorang ahli lingkungan yang mengatakan bahwa lingkungan alam merupakan perpaduan antara keadaan yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam air, dengan keikutsertaan manusia dalam mengelola atau menggunakan keadaan lingkungan tersebut dengan ada batasannya. Dari pengertian tersebut, kita pemuda Indonesia dapat melihat dan membandingkan lingkungan alam yang sebenarnya dan lingkungan alam saat ini. Sekarang adalah era globalisasi. Seperti yang kita ketahui, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menciptakan beribu-ribu produk serba modern nan canggih. Namun tanpa disadari, hal inilah yang menjadi benalu bagi lingkungan kita. Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai pemuda Indonesia untuk melestarikan lingkungan alam kita, sebagai wujud peduli pemuda terhadap lingkungannya ?
Dewasa ini, pabrik bak jamur yang berkembang biak di mana-mana. Seakan tak terkontrol lagi, sekarang pabrik seolah banyak dampak negatifnya daripada positifnya. Positifnya, pabrik mampu menciptakan barang-barang yang di butuhkan oleh manusia. Sedangkan negatifnya adalah semakin banyak pabrik berdiri, semakin banyak pula sampah maupun limbah yang diproduksi. Mulai dari limbah padat, cair, bahkan gas pun diproduksi oleh pabrik. Pabrik gula misalnya, kini di Indonesia terdapat lebih dari 59 pabrik gula. Setiap pabrik mampu memproduksi 46-52 % limbah cair per hari, dan 43-52 % limbah padat per hari. Aktivitas inilah yang merupakan salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan alam, baik tanah, air, dan udara. Sungguh berbahaya bukan ?
Begitu pun alat canggih lainnya, seperti mesin pemotong kayu misalnya, merupakan alat yang menjadikan Indonesia mampu turun tahta sebagai paru-paru dunia. Sungguh menyedihkan, melepaskan jabatan yang sungguh luar biasa bagi mata dunia, hanya karena mesin pemotong dan para penjahat hutan lainnya. Mesin pemotong kayu adalah mesin yang biasa di gunakan untuk memotong kayu atau batang yang ukurannya lebih besar. Biasanya, di gunakan untuk menebang hutan yang akan dijadikan proyek pembangunan, seperti rumah, pabrik, sekolah, rumah sakit, dan lainnya. Namun sekali lagi, manusia berbuat onar dengan menyalahgunakan mesin tersebut hanya untuk kepentingan sementara. Mereka itu lebih sering di sebut dengan penjahat hutan oleh orang-orang yang bergabung di komunitas pencinta lingkungan alam. Ya, para penjahat hutan, menggunakan mesin tersebut untuk menebang pohon, tetapi secara ilegal. Mereka pun menebang pohon melebihi batas wajar.Akibatnya, banyak hutan di Indonesia yang gundul. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen (World Resource Institute, 1997). Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. (Badan Planologi Dephut, 2003).
Namun sebenarnya, tidak hanya para penjahat hutan yang mengurangi kehijauan bumi pertiwi. Tanpa di sadari kita pun termasuk faktor yang tidak mendukung pelestarian lingkungan alam. Kurangnya kesadaran akan menjaga, membuat diri kita malas untuk mencoba dan melakukan gerakan penghijauan. Seperti menanam pohon atau bunga baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat-tempat lainnya.
Akibat negatif lainnya adalah, kurangnya penyerap air. Maka dari itu, kita sering kali mendengar berita di televisi tentang banjir terutama di kota-kota besar, yang berpenduduk padat, dan di kawasan dataran rendah. Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85% merupakan bencana banjir, longsor, kebakaran hutan, sampai banjir bandang.
Produksi oksigen pun berkurang, akibatnya makhluk hidup dapat mengalami gangguan pernapasan, karena oksigen yang kalah produksi dibandingkan polusi. Jika polusi lebih sering diproduksi dibandingkan oksigen, maka bumi pun akan menjadi sangat panas. Bahayanya lagi, yaitu menipisnya lapisan ozon bumi. Seperti yang kita ketahui, bahwa ozon bumi berguna melindungi alam seisi bumi dari benda-benda luar angkasa. Coba bayangkan jika tidak ada lagi ozon, apa yang akan terjadi pada bumi ? Dan juga, apa yang akan terjadi pada kita ?
Namun ternyata, tidak hanya manusia yang mengalami kerugian dari ulahnya sendiri. Makhluk hidup lain pun mengalami hal yang sama, malangnya hal itu bukan ulah mereka. Mari, kita lihat di sekeliling kita.
Udara yang kering dan kotor, tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. Udara yang kering, dapat mengganggu proses mekanisme fotosintesis pada tumbuhan. Karena udara yang kering mengandung kelembaban yang sangat sedikit. Sedangkan untuk sempurnanya proses fotosintesis, diperlukan kelembaban udara yang cukup. Jurnal Nature terbitan Amerika, mengungkapkan 2 hotspot (Sundaland dan Wallacea) sebagai wilayah Indonesia yang termasuk wilayah dengan keanekaragaman spesiesnya menuju pada kerusakan habitat (biodiversity hotspots). Spesies yang dimaksud tentunya spesies endemik. Besarnya kepunahan berkisar antara 2,9 sampai 12 spesies tumbuhan endemik setiap 100 km2.
Begitu pun dengan hewan, Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian dianataranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut. Bahkan beberapa dari mereka, membutuhkan udara dengan kelembaban khusus untuk bertahan hidup. Jika tidak, mereka pun dapat mengalami kepunahan.
Lalu bagaimana keadaan air dewasa ini ?
Tidak jauh berbeda dengan keadaan tanah dan udara. Di lingkungan air pun mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan. Berkurangnya ketersediaan air bersih, salah satu contohnya. Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih (Suara Pembaruan – 23 Maret 2007). Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Menurut data Departemen Kesehatan tahun 2002, terjadi 5.789 kasus diare yang menyebabkan 94 orang meninggal.
Hal ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena limbah dari aktivitas manusia. Limbah pabrik misalnya, yang mengandung banyak sekali zat-zat berbahaya bagi lingkungan air yang tercemar. Tidak hanya air yang tercemar, makhluk yang berinteraksi langsung dengan limbah maupun air yang telah tercemar itu pun dapat mengalami kerugian besar. Akibatnya, banyak biota air yang punah karena pencemaran air oleh limbah. Memproduksi limbah padat atau biasa di sebut dengan sampah pun sulit dihindari. Inilah kebiasaan buruk manusia, yang terlanjur membudayakan konsumsi tingkat tinggi. Tanpa peduli dengan banyaknya sampah yang akan menumpuk dan berserakan. Akibatnya, TPA kini tak kalah tingginya dengan Gunung Kilimanjaro. Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia sebesar 22,5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Lalu mau dibawa ke mana sampah-sampah itu ? Kembali lagi ke air. Ya, nyatanya kini TPA beralih tempat. Tanah tak dapat membendung, air pun jadi. Itulah kata pepatah yang paling cocok untuk menggambarkan lingkungan alam saat ini, sungguh menyedihkan.
Sebagai pemuda Indonesia, sudah sepantasnya kita peduli dengan lingkungan alam bumi pertiwi yang kita cintai ini. Dan dari semua penggambaran di atas, bisa kita jadikan bahan bagi kita untuk melakukan perubahan ke arah yang positif. Mulai dari yang kecil, mulai dari saat ini, dan mulailah dari diri kita sendiri.Dibutuhkannya pemuda pencinta alam yang berkemauan, yang berwawasan luas dan berpotensi baik yang mampu mencetuskan penemuan-penemuan baru, guna pelestarian alam yang lebih baik. Bisa di bentuk melalui komunitas maupun secara individu. Kini lebih dari 56 komunitas pencinta alam yang telah terbentuk di Indonesia.
Mereka ini adalah salah satu yang mampu mencetuskan penemuan-penemuan baru yang berguna dalam melestarikan lingkungan alam.
Pemanfaatan limbah pabrik gula misalnya, yang mampu menghasilkan limbah yang sering di sebut dengan blotong dengan jumlah yang sangat banyak, dapat di jadikan sebagai pupuk organik. Namun, penemuan ini masih perlu diteliti kembali untuk mencapai hasil yang sempurna.
Penemuan lainnya adalah pemanfaatan minyak kulit jeruk, untuk melarutkan sterofom. Namun sekali lagi, penemuan ini masih terbatas dan terhambat, mengingat belum di bukanya secara resmi pabrik khusus produksi minyak kulit jeruk. Salah satu alternatif penanganan sampah daripada dibakar percuma adalah dengan pembakaran pirolisis dari sampah organik, walaupun harus dipilah terlebih dahulu. Proses ini akan menghasilkan padatan yang sering di sebut char berupa arang, dan berupa cairan yang sering disebut tar memiliki nilai kalor tinggi. Char dapat diproses lanjut menjadi briket bio arang, dan dapat dijadikan sebagai energi alternatif selain ikut memberikan manfaat dalam mengurangi jumlah sampah yang ada.
Namun anehnya lagi, kini pemanfaatan sampah tidak hanya ditemukan oleh para pencinta lingkungan alam saja. Ternyata warga kalangan menengah ke bawah pun mempunyai akal kemauan untuk memanfaatkan sampah yang sudah lama hidup berdampingan dengan mereka. Inilah pemanfaatan sampah oleh masyarakat sekitar TPS Bantar Gebang. Tumpukan sampah itu menghasilkan gas metana, yang kemudian di timbun dengan tanah dan ditutup dengan membran atau plastik besar, agar gas metan tidak keluar. Lalu pasang saluran gas di bawah tumpukan sampah itu, sebagi jalan gas metana tersebut agar mengalir ke mesin yang bisa menghasilkan listrik dari sampah, yaitu orang menyebutnya Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Di mesin itulah sampah di proses hingga menjadi listrik yang digunakan di rumah-rumah warga sekitar.
Tidak hanya melalui penemuan, kita pun dapat melakukan pelestarian lingkungan alam dengan cara yang paling sederhana. Yaitu, membuang sampah pada tempatnya. Namun, membuang sampah saja tidak cukup. Akan sangat berguna, jika kita berusaha untuk mengurangi mengonsumsi barang-barang yang sulit untuk di uraikan, seperti tisu, kertas, sterofom, dan lainnya. Karena pada dasarnya kita bisa menggunakan barang-barang yang telah disediakan langsung oleh alam, misalnya untuk membungkus makanan. Alangkah baiknya jika kita menggunakan daun pisang dan sejenisnya, selain mudah terurai, aroma pada makanan pun akan semakin sedap. Hal ini telah di buktikan oleh banyak orang, dan hasilnya pun lebih menyehatkan.
Melakukan penanaman pohon bersama dengan teman-teman di sekolah, maupun dalam satu komunitas atau lebih populer dengan Go Green, juga sangat berpengaruh bagi lestarinya lingkungan alam. Sebab, penanaman 1 pohon, 10 nyawa dapat terselamatkan. Selain membantu lestarinya alam, menanam pohon bersama sangat menyenangkan bukan ? Kita pun dapat melakukan daur ulang secara sederhana, seperti mendaur ulang kaleng bekas, botol plastik bekas, karung, maupun, bungkus plastik makanan. Di daerah Bali, sudah banyak seniman yang melakukan daur ulang tersebut, dan menjadikan bisnis yang mujur. Terutama para turislah yang paling banyak terpikat dengan barang-barang kreasi mereka. Mulai dari suvenir, tas, hingga baju mereka buat. Selain mengurangi produksi sampah berlebih, kita pun dapat membantu pemerintah menambah jumlah devisa negara, bukan ?
Itulah, sedikit paparan tentang lingkungan alam saat ini yang tampaknya telah mengalami kerusakan yang sangat berat, dan tidak lupa juga tentang cara pelestariannya kembali.
Pemuda Peduli Lingkungan, itulah yang harusnya kita tumbuhkan sejak dini. Ingat, sebagai pemuda Indonesia wajib bagi kita untuk peduli akan lingkungan alam sekitar kita, demi asrinya kembali lingkungan alam di sekitar kita. Tidak hanya peduli di bibir dan di hati saja, tapi alam butuh di tangan kita juga.
Oleh : Anggita Anggraini Rosyada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar