SAMPAH LINGKUNGAN JADI PENOLONG LINGKUNGAN
Dewasa ini, sampah amat sangat di takuti oleh banyak orang. Tak ada yang menginginkan sampah merusak lingkungan sekitar mereka, baik di rumah, sekolah, rumah sakit, kantor, dan di tempat lainnya. Namun, untuk menghilangkan sampah itu, mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya baik untuk dilakukan ? Bahkan, banyak dari mereka dengan mudah membuang sampah-sampah tersebut tanpa memikirkan terlebih dahulu, apa dampak yang akan terjadi ? Padahal, banyak cara yang bisa kita lakukan tanpa membuang sampah tersebut, yang ternyata manfaatnya jauh lebih besar. Namun, kembali lagi ke kemauan untuk melakukan sesuatu yang positif yang sangat minim dimiliki oleh orang Indonesia.
“ Kami mencoba melakukan gerakan-gerakan yang bisa bermanfaat bagi makhluk hidup beserta lingkungannya. Salah satunya dengan cara memanfaatkan sampah-sampah yang di produksi, khususnya di SMP Negeri 5 Lahat. “, tutur Kepala SMP Negeri 5 Lahat, Bapak Siwin, S.Pd, Senin (7/1) lalu. Ya, nyatanya, di sekolah yang terletak di daerah Lahat ini sudah menggunakan metode pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi pupuk kompos.
“ Meninjau semakin banyaknya pupuk kimia yang diproduksi, kami tetap menginginkan pupuk yang alami. Terutama untuk tumbuh - tumbuhan yang hidup di lingkungan sekolah. Dan kami memanfaatkan siswa untuk mengolahnya, hal ini di karenakah untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungannya. “, jelas Ibu Nyimas Rosdiana, S.Pd, selaku guru mata pelajaran Biologi saat di temui, Selasa (8/1).
Pengomposan merupakan alternatif penanganan masalah sampah yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara.
“ Proses pengomposan akan terjadi jika sampah-sampah organik telah bercampur. Oksigen dan senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o - 70o C, suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30–40% dari bobot awal bahan. “, jelas Ibu Nyimas Rosdiana, S.Pd, menerangkan proses pengomposan secara sederhana.
Selain itu, manfaatnya pun memang berimbas kepada siswa, seperti yang dituturkan oleh Ibu Nyimas Rosdiana, S.Pd, di atas. “ Saya sudah mengerti tentang pembuatan pupuk kompos dari sampah organik. Saya berusaha cukup keras di sekolah, agar percobaan saya berhasil. Sehingga saya bisa menerapkannya di rumah, dan saya bisa menyalurkannya ke orang tua saya, saudara saya, atau bahkan ke teman saya yang lainnya. “, ujar Faula Utari, siswi kelas IX, SMP Negeri 5 Lahat saat di temui di halaman belakang sekolah.
Tidak hanya itu, pupuk kompos pun bermanfaat juga jika ditinjau dari aspek ekonomi, seperti yang dituturkan oleh Ibu Hartiwi, S.Pd, selaku guru mata pelajaran IPS Ekonomi, “ Proses pengomposan ini, berguna mengurangi volume limbah yang diproduksi. Selain itu, pupuk kompos memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya. “
“ Mengurangi pencemaran udara karena bau yang di hasilkan oleh sampah. Selain itu, meningkatkan ketersediaan hara di dalam air, meningkatkan kesuburan air, dan meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah. “, ujar Ria Anggraini, siswi kelas IX, SMP Negeri 5 Lahat, peraih juara II pada Olimpiade MIPA Biologi se-Kabupaten Lahat, saat ditanyai pendapat.
Oleh : Anggita Anggraini Rosyada
the great blog dek :)
BalasHapus