di hari yang sama, selasa
suasana pun menggambarkan silam
gelap, dingin, sebab bumi menangis
persis kelabu mendekap diri
pikiranku terhampar jauh ke belakang
mencari-cari jejak kebersamaan
yang tertulis dalam bisu yang kekal
bumi mengerang dalam hujan
tutupi basah wajahku yang kelam
cukup lama masa itu ku kubur dalam diam
hingga terlalu lunak tuk sekedar menjadi kerak
yang sulit tuk di buka, tuk mengenang
kala sunyi kurasa, rindu pun semakin menggema
ingin di hampiri, ingin menjadi berarti kembali
tahukah kau, sosokmu menawan?
terlalu berarti bila hanya dicintai
aku bernostalgia bersama hujan
senyum simpul muncul di tengah kepedihan
mengingat tingkah anehmu yang konyol
namun tetap mempesona, sungguh hipnotis
ya, aku merindukannya ..
sungguh ku tak dapat mengelak
sosoknya yang sempat pudar
kini auranya kembali terpancar
selasa kelabu kembali bercerita
dengan tenang menaungiku, hujan ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar