terik panas matahari
mencoreng birunya langit pagi
seberkas cerahnya menembus kusamnya kaca
yang diselimuti butiran molekul
oleh upaca para tangan tercemar
namun, semburatnya tetap menyilaukanku
meninggalkan tato panas diwajahku
berwarna orange yang indah
menemaniku dalam keterdiaman
termenung sendiri di tengah ruang
kembali, ku hanya mengurung diri
menjauh dari keramaian dunia
kembali, ku buka semua kenangan itu
kenangan yang ku tutup rapat, terkunci
dalam hati yang setia menunggu kebebasan
aku tak hiraukan banyak mata memandang
menghakimi diriku yang menganut individualisme
aku tak peduli, terserah saja
tak penting bagiku burung berkicau
kembali, aku kembali pada titik terlemah
kala semua kenangan itu, kembali bercerita
indahnya kehadiranmu, perihnya kepergianmu
meski belum ku miliki, namun sempat ku rasakan
aku dalam keterpurukan, bimbang dalam menentukan
pandangan diri, atau argumen para ilalang
tersudut ku dalam segitiga bermuda
mencari garis putus, tuk berhenti berlari
tertunduk ku disini, meluluhkan raga
bersama matahari pagi ku ditemani
dengan sinarnya ku bercerita ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar