penyanggaku kembali
penyanggaku datang tanpa diundang
ia berdiri di dekatku
tepat di sebelah kanan sisiku
ia menjulangkan tubuh tingginya
lalu dilipatnya kedua tangannya
tepat di depan dada, yang terbungkus dalam diam
terlalu sunyi, buat jantungku berderu kencang
seperti denting jam di tengah pemakaman
aku pun tak kuat sembunyikan seulas kebahagiaan
rasanya diriku sungguh ingin melebarkan senyuman
namu tetap kendaliku bersiaga
tak mau terpuruk lebih dari ini
ku stabilkan setiap hembusan napas
yang sempat sesak oleh atmosfer kehadiranmu
hingga aku pun pergi, berlalu
menjalankan tanggung jawab dipundakku
aku pun mulai bimbang akan keadaan
masikah kau setia pada pijakanmu
atau mungkin berpaling ke sudut lain
satu opiniku menggebu tuk diyakinkan
sebuah semangat yang dikungkung dalam sangkar
tak bisa bebas, namun ingin terungkap
namun opini itu tetap diselimuti tebalnya keegoisan
hanya angan sesaat yang mengharap pembelaan
banyak suara yang menentang
bahwa semua alibiku tuk tetap tegak pada pendirian
suara itu berseru kencang dan menyakitkan
sebuah seruan tuk melupakan semua angan yang ku jaga
sulit, sungguh berat tuk ku benarkan
sebuah nyata yang mungkin terjamin keotentikannya
kini ku seperti sebuah titik di labiran membingungkan
mencari jalan keluar beralaskan insting belaka
kini ku terkurung dalam bimbang
tetap ku jaga hingga lelah datang
atau melepaskan ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar