aku kembali tumbang
tumbang tanpa penyangga
jelas tubuhku remuk
menghantam kerasnya muka pijakan
dimana penyanggaku ?
yang dulu ada meski semu
yang dulu tersenyum dalam sejuta rahasia
yang dulu katanya selalu menenangkan
aku menghilang, atau kehilangan ?
aku seperti buta, tak dapat menerawang
jalan berlubang tak ku hiraukan
aku seperti bisu, tak dapat mengisyaratkan
jawaban hati yang terkurung sepi
aku seperti tuli, tak dapat peka keadaan
yang khawatirkan semua lamunanku
dan aku seperti mati rasa, hampa dalam jiwa
enggan pedulikan kehadiran hati lain yang perlahan datang
napasku kembali mendesak, meminta untuk lepas bebas
hingga air mata ikut menemani dalam liku perjalanan
menelusuri setiap lekuk pori, mencari tempat bermuara
ternyata aku lemah, yang terus pasang topeng baja
menipu banyak mata dengan senyum tawa
dibalik layunya semangat melangkah
kini ku seperti setangkai aster di tengah teriknya sahara
mengharapkan tangan yang menyiramkan setetes air
meski ku tahu hanya mukjizat jika benar terjadi
ku tetap yakin dirimu yang akan datang
membawa kesejukan ditengah gersangnya angan
walau aku tahu, akan sakit jika tetap ku jaga angan itu
akan tetap ku lakukan semua itu, dengan sempurna
jika rasa sakit itu benar datang lagi
akan ku pasang kembali topengku
akan ku mainkan peran keduaku
dalam cerita manis membungkus luka ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar