ku buka telingaku tuk mendengarkanmu
ku tutup mataku tuk membayangkanmu
ku lakukan demi temani hari
ku tutup mataku tuk membayangkanmu
ku lakukan demi temani hari
karena perlahan kau
kini menjadi kabur
perlahan-lahan kau ilusi dalam mata
hanya nyata dalam kenangan semata
aku hanya bisa berhenti, lalu diam
kenangan yang terpahat, mengendalikanku begitu mudah
sekali lagi, untuk kali kesekian
hanya nyata dalam kenangan semata
aku hanya bisa berhenti, lalu diam
kenangan yang terpahat, mengendalikanku begitu mudah
sekali lagi, untuk kali kesekian
satu kesadaran berderu, menyeruak
tuk merasa bebas
akhirnya, saat ini tiba
akhirnya, saat ini tiba
saat dimana kau akan pergi membawa
kebahagiaanmu
dan aku yang tertinggal dalam
sebongkah kepedihan
kesadaran yang terhitung janji, mutlak pasti terjadi
sesak aku, kala auramu menjauh
ku siagakan kedua tangan
kesadaran yang terhitung janji, mutlak pasti terjadi
sesak aku, kala auramu menjauh
ku siagakan kedua tangan
tuk menahanmu dari angin yang mengantarmu
ke suatu penjuru
namun keterlambatan tak dapat ku tolak,
namun keterlambatan tak dapat ku tolak,
karena kini ku tak menemukanmu
kecuali pandanganku yang perlahan menjauh
aku tidak takut jatuh, tidak takut terluka
karena dengan kau di sini aku dapat bertahan
tanpa dirimu, aku kehilangan motivator klasik
aku tidak dapat melangkah maju, bahkan tuk mundur sekalipun
yang bisa aku lakukan, hanya ..
berhenti, lalu diam
ditemani isak pedih dan dibalut sempurna dalam,
aku tidak takut jatuh, tidak takut terluka
karena dengan kau di sini aku dapat bertahan
tanpa dirimu, aku kehilangan motivator klasik
aku tidak dapat melangkah maju, bahkan tuk mundur sekalipun
yang bisa aku lakukan, hanya ..
berhenti, lalu diam
ditemani isak pedih dan dibalut sempurna dalam,
gelap dan sunyi ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar