saat ku dirangkul ketakutan
bersama arungi putaran kepedihan
ku tatap langit yang pekat hitam
bulir air pun jatuh lewat pori-pori
yang tak sanggup lagi menahan beban
angin pun tak lagi diambang tenang
semua bertengkar ciptakan badai
daun pun tak segan bertautan
merebahkan diri di keramaian dahan
menciptakan gelombang menakutkan
yang membentur bibir jendela bak hempasan
tak ada lagi yang bisa ku lakukan
selain menikmati suasana yang suram
sambil menitikkan semua beban
berharap sedikit berkurang hingga terasa ringan
tapi apa daya semua harapan
hanya menjadi mimpi ilusi yang terkenang
bintang kini terselimuti kelam
setitik sinar samar tuk ditemukan
hingga lelap membunuhku perlahan
mataku kini hilang terbenam
oleh sembab merah yang meradang
biarkan mimpiku terus berlari
melanjutkan kesadaran yang ingin menepi
yang lelah tegakkan keperkasaan tameng
terus menjadi benteng pertahanan hati
tak jera doaku diiringi isak yang mengalun
dari alur cerita yang kalut tak berujung
akan ada akhir tanpa sepucuk mendung
seperti saat ini, aku termenung ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar