ketidakmungkinan kini semakin melebar
menghabisi keegoisan yang dulu meraja lela
tuk dengan isak merelakan dirimu berlari menjauh
jauh, bahkan punggung tinggi itu tak terbit lagi
dengan berat ku hela napas yang menyesakkan
hingga paru-paru tak lagi berkontraksi
bukan berarti aku mati, hanya sedikit sakit yang tak terkendali
hingga luapnya buat linangan air membanjiri pipi
tak bisa di seka, karena telapak yang begitu kecil ini
terlalu rapuh tuk digerakkan, bahkan tuk menanggung beban
ku butuh jemari itu, jemari panjang yang berjajar di telapak lebar
jemarimu, hanya milikmu, milik dirimu seorang
yang dulu pernah hentakkan gemuruh meja di permukaan
karena kesal tak merasa puas, mungkin juga sekedar menarik perhatian
pikir pendek ku tiap kau lakukan sikap aneh itu
aku ingin kau kembali, menjadi sosok yang dulu lagi
yang canggung tuk sekedar menyapaku
yang tak segan lontarkan pujian menenangkan
yang dengan tak langsung suaramu terus mendorongku maju
dan yang tak takut menangkapku dengan pandangan
aku ingin ketidakmungkinan, menjadi mungkin yang mutlak pasti
tuk jadi acuan yang harus ku daki
tuk menggapai pucuk yang selama ini dinanti ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar